Ini Dia 4 Macam Pemberdayaan Difabel di Industri Parekraf

Kamu pasti pernah mendengar istilah ekonomi kreatif, bukan? Salah satu sektor yang masuk dalam ranah ekonomi kreatif atau yang dikenal juga dengan parekraf adalah ramah difabel. Di Indonesia sendiri, pemberdayaan difabel di industri parekraf mulai banyak bermunculan.

Dengan hadirnya industri parekraf, teman-teman difabel tetap bisa memiliki kesempatan untuk bekerja dan berkontribusi dalam berbagai bidang industri. Nah, biar kamu makin paham apa saja industri parekraf dalam pemberdayaan difabel, yuk simak ulasan berikut ini:

4 Macam Pemberdayaan Difabel di Industri Parekraf

1. Rumah Kerajinan Precious One

Salah satu industri kreatif yang mendukung pemberdayaan kaum difabel yaitu Rumah Kerajinan Precious One. Industri kreatif yang berdiri sejak tahun 2014 di Jakarta ini bergerak di bidang seni kriya yang memproduksi berbagai macam kerajinan tangan berkualitas.

Industri ini berhasil menjadi lapangan pekerjaan bagi teman-teman penyandang disabilitas. Industri kreatif ramah difabel yang mengangkat tagline “Bangga Pakai Karya Disabilitas” ini menyuarakan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk bisa menciptakan karya berkualitas.

Berbagai produk yang dihasilkan oleh rumah kerajinan Precious One antara lain boneka, kotak tisu, sarung bantal, masker, dan berbagai macam benda-benda kriya lainnya. Kerajinan yang dihasilkan di industri kreatif ramah difabel satu ini juga tidak perlu diragukan lagi kualitas dan kerapiannya.

2. Pengrajin Anyaman Bambu

Industri kreatif ramah difabel selanjutnya yaitu kerajinan anyaman di Kabupaten Kediri yang digagas oleh seorang pengrajin anyaman bambu bernama Gunawan. Industri yang bergerak dalam subsektor kriya ini merangkul teman-teman difabel untuk berkarya menciptakan barang dari anyaman.

Teman-teman yang memiliki keterbatasan fisik ini diberdayakan di dalam industri kreatif tersebut untuk membuat berbagai macam barang dari anyaman seperti kotak tisu, wadah lampu, toples, bakul nasi, dan perabotan rumah tangga dari anyaman lainnya.

Barang-barang kerajinan anyaman yang dihasilkan oleh teman-teman difabel dari desa pengrajin anyaman Kabupaten Kediri ini ternyata banyak diminati masyarakat luas, lho. Pelanggan kerajinan anyaman industri kreatif ramah difabel ini berasal dari perorangan maupun hotel.

3. Sunyi House of Coffee and Hope

Sunyi House of Coffee and Hope merupakan salah satu bentuk industri kreatif yang ramah difabel. Kafe yang terletak di daerah Cilandak, Jakarta Selatan ini mempekerjakan teman-teman penyandang difabel.

Meski memiliki keterbatasan fisik, keterampilan para pelayan kafe ini tidak boleh dipandang sebelah mata, lho. Mereka yang bekerja di kafe ini memiliki keahlian dan keterampilan yang sangat baik dalam meracik makanan dan minuman.

Citarasa makanan dan minuman di kafe ramah difabel ini juga bisa dijamin kelezatan dan kenikmatannya. Mulai dari koki, barista, kasir, dan pelayan kafe Sunyi House adalah para penyandang disabilitas yang berbakat.

Tidak hanya pekerjanya saja, desain interior di kafe ini juga ramah untuk penyandang difabel seperti meja bundar agar lebih aman dan penggunaan huruf braille untuk memudahkan pelanggan tunanetra.

Bagi kamu yang penasaran merasakan sensasi unik dari kafe ramah difabel satu ini, kamu harus menggunakan bahasa isyarat karena kasir di kafe ini merupakan penyandang tuli. Kehadiran kafe ini juga menjadi bukti bahwa kaum difabel tetap mampu berkarya di industri kuliner.

4. Wistara Batik

Industri kreatif ramah difabel selanjutnya adalah Wistara Batik yang diprakarsai oleh Aryo Setiawan. Industri kreatif yang bergerak di subsektor fashion ini sudah berdiri sejak tahun 2010 lalu dan mempekerjakan teman-teman penyandang disabilitas.

Mulai dari pembuatan pola, pemotongan kain batik, proses menjahit, pengemasan, hingga pemasaran produk dilakukan oleh pekerja difabel. Di industri Wistara Batik ini, setiap pekerja dapat menghasilkan sekitar 5 potong baju setiap harinya. Keren, bukan?

Pakaian batik yang dihasilkan di Wistara Batik tidak hanya diminati konsumen dari dalam negeri saja, lho. Konsumen mancanegara juga memiliki minat yang besar terhadap produk pakaian batik Wistara, sehingga tidak mengherankan jika produk batik ini banyak diekspor ke luar negeri.

Prestasi membanggakan dari Wistara Batik ini menjadi bukti bahwa karya teman-teman penyandang difabel juga mampu bersaing sehat di sektor ekonomi kreatif dan bisa diterima baik oleh masyarakat.

Munculnya berbagai industri kreatif ramah difabel rupanya menjadi kabar baik untuk teman-teman penyandang disabilitas, lho. Dengan adanya pemberdayaan difabel di industri parekraf yang ada di Indonesia, kaum difabel bisa memperoleh kesempatan kerja yang sama seperti masyarakat umum.